Published On: Ming, Nov 4th, 2018

Mata Uang Bolivar Korban Hiperinflasi, Jadi Peluang Bisnis Baru

Share This
Tags
Tas Mata Uang Bolivar di Venezuela laris manis (foto:Ist)

Tas Mata Uang Bolivar di Venezuela laris manis (foto:Ist)

CUCUTA,IJN.CO.ID – Hiperinflasi terus mengguncang ekonomi Venezuela sehingga mata uang Bolivar sama sekali tak berharga. Namun, di tangan seniman, uang kertas ini justru menjadi peluang bisnis.

Ditemui di sudut jalan Kota Cucuta yang terletak di perbatasan Kolombia—680 kilometer dari ibu kota Venezuela, Caracas—Infante menjual tas yang terdiri dari ribuan uang kertas Bolivar seharga US$7 (Rp106.000) hingga US$15 (Rp228.000).

Uang sebanyak itu, menurut Infante, cukup membuat dapur keluarganya mengebul di Venezuela selama setidaknya dua pekan.

Mencetak uang baru

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi tingkat inflasi tahunan Venezuela akan mencapai 1.000.000% pada akhir tahun ini.

Guna mengantisipasinya, pemerintah Venezuela baru-baru ini menciptakan mata uang baru bernama ‘Bolivar berdaulat’ yang nilainya setara dengan 100.000 Bolivar lama. Namun, tiada tanda-tanda upaya itu meredam krisis. Para pengkritik menilai hal tersebut justru membuat krisis bertambah parah.

Di perbatasan Venezuela, para pedagang mata uang tak resmi duduk di hadapan meja plastik yang penuh tumpukan uang kertas pecahan 20.000, 50.000, dan 100.000 Bolivar lama. ‘Bolivar berdaulat’ belum kunjung tiba di Kota Cucuta, Kolombia, hingga artikel ini ditulis.

Setiap hari ribuan warga Venezuela yang baru pulang dari tempat bekerja di Kolombia menukarkan segenggam uang logam Kolombia dengan tumpukan uang kertas Bolivar.

Mata uang Bolivar dengan pecahan kecil diperlakukan seperti sampah, seperti 10 Bolivar yang dicetak pada 2011, 100 Bolivar yang dicetak pada 2015, dan 1.000 Bolivar yang dicetak pada 2016.

Para seniman, termasuk Infante, membeli tumpukan uang kertas itu untuk menjadi bahan anyaman. Satu tumpuk uang kertas dihargai US$1 atau Rp15.217—melampaui nilai sebenarnya.

‘Tak pernah terbayangkan’

Jorge Cardero, pembuat tas uang anyaman lainnya, duduk di antara tumpukan uang yang baru dibelinya. Saat baru mulai membuat tas berbahan dasar uang, dia memakai uang kertas dua hingga lima Bolivar.

“Kami tidak pernah membayangkan bakal menggunakan uang pecahan 5.000,” ujarnya.

Cordero mengaku belajar melipat-lipat kertas menjadi anyaman saat dipenjara di Venezuela.

Kala itu, dia menggunakan bahan tidak terpakai, seperti kertas majalah, pembungkus permen, atau pembungkus makanan.

Uang kertas yang dipakainya membuat tas jauh lebih bagus, katanya. Sebab, uang kertas tahan air, mulus, dan kuat.

Berkah pada masa kelam

Bagi Infante, tas anyaman dari uang kertas Bolivar merupakan berkah pada masa kelam.

Berkat tas-tas tersebut dia bisa hidup relatif nyaman ketimbang sejumlah warga Venezuela yang harus menyambung hidup dengan menjual permen atau menjadi kuli.

Hanya dengan menjual satu tas per hari, Infante dapat makan. Pernah dua kali, warga dari Bogota datang dan membeli tas anyamannya dalam jumlah banyak untuk dijual lagi di ibu kota Kolombia itu.

Orang Amerika dan Italia juga datang untuk mendapatkan tas anyaman buatan Infante.

Infante berharap hasil kerajinan tangannya dapat mengeluarkan dia dari kawasan perbatasan ke kota besar, seperti Bogota di Kolombia atau Lima di Peru sehingga dia bisa mendapatkan uang lebih banyak.

Namun, harapan terbesarnya, menurutnya, adalah suatu saat bisa kembali ke Venezuela yang damai.Demikian dilaporkan BBC News. (IJN)