Published On: Kam, Jan 30th, 2020

Korban Kriminalisasi Oknum Polsek Cempaka Putih, Tuduhan Penipuan Jual Beli Valuta Asing

Share This
Tags
Kuasa hukum KG, Suratman Usman memberi keterangan pers

JAKARTA,IJN.CO.ID – Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) diduga menjadi korban kriminalisasi yang dilakukan oleh oknum Polsek Cempaka Putih. Perempuan berinisial KG (41) itu harus meringkuk di tahanan karena diduga terlibat penipuan berkedok pembelian valuta asing atau valas.

Dalam keterangan persnya, kuasa hukum KG, Suratman Usman, menyebut bahwa penangkapan yang dilakukan oleh Polsek Cempaka Putih tidak dilengkapi dengan bukti yang kuat dan dengan tuduhan penipuan jual beli valuta asing.

“Klien kami ditangkap dirumahnya oleh Polsek Cempaka Putih tanpa bukti-bukti yang kuat dengan tuduhan penipuan jual beli valuta asing, kami menyampaikan perihal adanya dugaan tindakan yang tidak profesional atau tindakan yang kami anggap penyalahgunaan kewenangan atau kekuasaan secara berlebihan, yang diduga dilakukan oleh kepolisian Polsek Cempaka Putih, Jakarta Pusat dengan kasus pidana pasal 372 dan 378, yang dalam hal ini dikatakan sebagai operasi tangkap tangan (OTT).
Dalam sejarah ini belum pernah kami dengar yang di mana dalam kasus-kasus 378 dan 372 kasus penipuan atau penggelapan,” ujar Suratman di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/1/2020).

Suratman mengungkapkan, tindak kriminalisasi yang menimpa kliennya berawal dari KG yang ingin melakukan pembelian uang dolar Amerika dengan nominal 250 ribu dolar atau senilai 5,5 miliar rupiah kepada RA, akan tetapi dikarenakan pembayarannya telat beberapa jam dari waktu yang sudah ditentukan sebelumnya, KG langsung ditangkap paksa oleh petugas kepolisian dengan alasan membuat kegaduhan berdasarkan laporan masyarakat.

“Ada transaksi valutasing antara KG dengan pemilik valutasing tersebut dan bersepakat menyerahkan valutasing itu diserahkan kepada kami. Di mana kesepakatan antara si pemilik perusahaan disebut sepakat, untuk menyarahkan kira-kira sampai jam 12.00 wib, lalu pembayaran uangnya itu akan dilakukan pukul 16.00 wib, ternyata pada pukul 18.00 wib tiba-tiba pihak kepolisian dari Polsek Cempaka Putih cepet datang dan menangkap client kami tanpa terlebih dahulu dilakukan proses penyelidikan gelar perkara penyelidikan, dalam surat penangkapan itu sudah disebutkan nama client kami,” kata Suratman.

“Kapan proses-proses itu dilakukan dan bagaimana kepolisian itu bisa tahu bahwa yg jadi masalah itu berkaitan dengan valas dan berkaitan dengan client kami,” tambah Suratman.

TIDAK PROSEDURAL
Terkait dengan penangkapan tersebut, Suratman menekankan bahwa adanya prosedur penangkapan yang tidak prosedural dan ada penyalahgunaan secara berlebihan.

“Pasalnya, dalam KUHP atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana disebutkan ada proses penyelidikan, gelar perkara, penyedikan baru ditetapkan tersangka terhadap pelaku, tetapi prosedur ini dilewati oleh petugas kepolisian. Karena pada pukul 18:00 tanggal 9 Desember 2019, pihak kepolisian datang dan langsung menangkap klien kami serta membawanya,” ujar Suratman.

“Dasar penangkapan klien kami awalnya ada laporan masyarakat tentang keributan. Yang menjadi pertanyaan kami adalah kalau ada laporan keributan, pertama petugas kepolisian mendatangi lokasi kejadian lalu melakukan penyidikan, karena apa terjadi keributan dan petugas harus melakukan penyelidikan untuk menemukan siapa tersangkanya, namun kenyataannya berbeda, petugas kepolisian datang dan langsung menangkap klien kami serta langsung dijadikan tersangka.
Pada hari yg sama pukul 18.00 dilakukan penahan, spdp, penyitaan, penggeledahan. Sungguh luar biasa dalam waktu kurang lebih satu jam semua itu sudah terlaksana, di mana semua itu tidak masuk akal ranah pola pikir sehat kita,” pungkas Suratman.

Atas kejanggalan tersebut, KG melalui kuasa hukumnya akan melaporkan Kapolsek Cempaka Putih ke divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya atas dugaan pelanggaran hukum terkait prosedural dan kriminalisasi kepada dirinya.(jef)