Published On: Ming, Mar 10th, 2019

IJC Menilai Keputusan PB PJSI Soal SEA Games 2019 Janggal dan Membingungkan

Share This
Tags

JAKARTA,IJN.CO.ID – Indonesia Judo Community (IJC) menyampaikan kajian seputar pelatnas judo SEA Games 2019 Filipina kepada Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB.PJSI).Surat resmi IJC terkait kajian seputar pelatnas SEA Games 2019 yang ditandatangani Sekjen IJC Budi Setianto S.Pd itu mempertanyakan beberapa keputusan PB.PJSI yang dinilai janggal dan membingungkan.

Legenda hidup judo Indonesia Krisna Bayu saat berbagi ilmu kepada judoka muda usia di Festival judo Indonesia HUT IJC 1 2019 di Karawang Jabar (Foto/OLII)

Menurut Kepala Divisi Media IJC, Aji Kusmantri setelah Kejurnas Judo Junior dan Senior yang berlangsung 22-24 Pebruari lalu di GOR Kelapa Gading Jakarta Utara itu ada beberapa hal janggal dirasakan oleh sebagian pemerhati dan pencinta olahraga judo di Indonesia.

Apalagi setelah keluarnya surat PB.PJSI NomorPB/39/SJ-38 Judo/1/2019 tentang pemanggilan dan pemulangan beberapa atlet pelatnas judo yang bermarkas di Padepokan Judo Indonesia , Ciloto, Jabar.

Dalam surat IJC yang ditembuskan kepada Presiden Komisaris IJC, PresidentIJC dan Seluruh Pengprov PJSI itu, lanjut Aji Kusmantri juga menekankan beberapa hal yang harusnya menjadi perhatian di tingkat pengambil keputusan (Ketum, Ketua Harian, Sekjen, Wakil Sekjen, Ketua 1 dan Kabid Binpres).

Ketua Umum PB.PJSI, Mulyono bersama para pemenang dalasm Kejurnas Judo Senior dan Junior 2019 di GOR Kelapa Gading (Foto/ist)

Ada lima hal penting yang menjadi sorotan sekaligus dikritisi oleh IJC. Pertama, Kejurnas yang biasanya dan umumnya dilaksanakan pada penghujung tahun, namun untuk saat ini digelar pada awal tahun. Padahal dalam kalendert-kalender sebelumnya Kartika Cup lah yang dilaksanakan awal tahun.

Kedua, atlet atas nama Budi Prasetyo (-66 kg) yang pada saat kejurnas dianggap gagal tetapi dipertahankan di pelatnas dengan predikat pendamping, di mana di kelas ini runner-up-nya Putu Sukaryasa dari Bali justru tak dipanggil.

Ketiga, atlet potensial di kelas -60 kg Alfiansyah dari DKI dipulangkan. Sebenarnya apabila PB.PJSI tidak memulangkannya, atlet tersebut lebih layak dijadikan sebagai pendamping di kelas 66 kg, mengingat usianya jauh lebih mudah dibandingkan Budi Prasetyo.Pada Kartika 2018 dan Kejurnas Seniot dan Junior 2019, Alfiansyah mampu mengalahkan seniornya yang merupakan juara SEA Games dan PON 2016 Toni Irawan (Jabar).

Keempat, kejanggalan lainnya juga terjadi di kelas -90 kg juara 1 atas nama Rekyanda dari Bali tidak dipanggil sedangkan juara 2 atau runner-upnya atas nama Toni Ricardo (Jatim) dan atlet yang tidak ikut bertanding atas nama Jeremy Pantouw (DKI)  justru dipanggil masuk pelatnas.

Kelima, ini lebih membingungkan lagi karena status Venny Pantouw sebagai Kepala Pelatih Pelatnas Judo SEA Games 2019, padahal yang bersangkutan menjabat Kabid Binpres PB.PJSI.  Adanya rangkap jabatan seperti ini apalagi untuk posisi strategis karena terkait prestasi, jelas akan menjadi rumit bila ada kesalahan atau kekeliruan dalam mengambil keputusan.

Kepala pelatih yang juga Kabid Binpres akan mempertanggungjawabkan kepada siapa atau langsung diambil alih oleh Ketua 1, Sekjen, Ketua Harian atau Ketua Umum ?

Terkait pelaksanaan Festival Judo Indonesia FJI yang berlangsung 23-24 Pebruari lalu di Karawang Jabar, IJC menyampaikan terima kasih atas dukungan Taspen, Taspen Life, Mandiri Taspen, BRI, SONICE, Indosat, VKool dan donasi pribadi yang peduli terhadap pembinaan dan pengembangan judo secara nasional.(*/jef)