Published On: Sab, Feb 13th, 2016

Diceritakan oleh Tresnas Ananta Sutresno (Ade):Disiksa Jin Pesugihan

Share This
Tags
Tresnas Ananta Sutresno alias Ade (foto:IJN/Bili)

Tresnas Ananta Sutresno alias Ade (foto:IJN/Bili)

Jakarta IJN.CO.ID- Kejadian ini di Daerah Sukamandi Desa Blok Balong Jawa Barat 

Dari penuturan Ade, terbuka kisah tragedi memilukan yang dialami oleh Jamal tetangganya.

“Jamal sangat serakah dan tamak. Dia tidak puas dengan apa yang sudah didapatkannya. Dia ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi. Akhirnya, dia termakan oleh ambisinya sendiri. Kehidupannya menjadi hancur, menderita, miskin, dan akhirnya…gila. Begitulah keadaannya sekarang,” Ade  menuturkan.

“Bagaimana ceritanya sampai dia bisa bersekutu dengan Iblis, Pak Ade?” tanya saya, ingin tahu lebih jauh lagi.

“Ceritanya panjang. Tepatnya Tahun 1993….”

Selanjutnya Pak Ade menceritakan riwayat hidup Jamal yang kelam itu. Berikut ini kisah lengkapnya…

Saat itu usia Jamal masih sekitar duapuluh tahunan. Sebagai pemuda desa yang hidup miskin, Jamal diliputi keminderan. Dia jadi kurang pede dalam pergaulan. Apalagi wajahnya tergolong tidak tampan. Hanya pas-pasan.

Namun, cinta memang tak pandang bulu. Tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam Jamal menyimpan perasaan itu pada Yati, gadis cantik yang tinggal satu kampung dengannya.

Tak tahan memendam perasaan, Jamal nekad menyampaikan hasrat hatinya kepada si gadis idaman. Sayangnya, cinta Jamal ditolak mentah-mentah oleh Yati. Bahkan dengan terang-terangan Yati mencemooh dan mengejek jamal.

“Cah edan! Tidak mau berkaca. Siapa yang mau sama sampeyan. Muka kayak monyet gitu,” demikian ujar Yati menghina.

Hati  Jamal jadi terluka karenanya. Dengan menyimpan perasaan dendam, dia lalu pergi ke seorang dukun untuk meminta bantuan gaib. Dia meminta ajian pengasihan dari sang dukun agar bisa memelet Yati. Si dukun rupanya tak keberatan membantunya.

Singkat cerita, dengan hanya bermodalkan selembar rambut milik Yati yang diambil Jamal secara diam-diam sebagai media pelet, akhirnya Yati berhasil ditaklukkan. Gadis yang pernah menghinanya itu datang ke rumahnya dan merengek-rengek minta dinikahi.

Yati sungguh jatuh cinta setengah mati pada jamal. Kejadian yang sangat aneh ini sempat membuat keluarga Yati sedih. Meski mereka tahu Yati seperti terkena guna-guna, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena aji pelet yang dilancarkan Jamal tergolong tingkat tinggi. Meski mereka sudah mencari orang pintar untuk mengobati Yati, namuh selalu saja gagal. Untuk memendung aib yang lebih besar lagi, keluarga Yati akhirnya merestui perkawinan Yati dengan Jamal.

Namun, meski mengijinkan Jamal menikahi anaknya, orang tua Yati memberikah sebuah syarat yang harus dipenuhi Jamal. Syarat itu adalah Jamal harus bisa memberikan kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak mau Yati hidup miskin dan menderita seperti keluarga Jamal.

“Kalau sampai anakku ditelantarkan dan hidup dalam kemiskinan, maka aku tak segan menceraikan kalian. Aku akan ambil anakku kembali!” demikianlah ancam ayah Yati.

Jamal menyanggupi permintaan mertuanya. Walau sebenarnya cukup berat untuk dipenuhinya. Bagaimana tidak berat, dengan status pengangguran dan orang tua yang miskin, mungkinkah dia bisa memberikan kehidupan yang layak bagi isterinya? Untuk makan sehari-hari saja Jamal masih tergantung pada orangtuanya yang hanya bermata pencaharian petani.

Akhirnya tak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali mendatangi dukun. Ya, setelah sukses memelet Yati, tampaknya Jamal ketagihan ingin mengatasi kesulitan hidupnya dengan jalan mistik.

Kali ini dia ingin mendapatkan kekayaan dalam waktu relatif singkat. Dia sering mendengar tentang ritual pesugihan yang bisa membuat orang kaya mendadak, walau harus menempuh resiko tidak ringan. Jamal akan menempuh jalan itu.

Dia kembali mendatangi dukun yang pernah menolongnya. Tapi tidak seperti saat pertama datang dulu, kali ini sang dukun sempat memperingatkannya.

“Maaf. Nak Jamal. Bukannya aku tidak ingin membantumu, tapi hal ini mengandung resiko yang berat. Kamu harus mempersembahkan tumbal dari keluargamu sendiri sehingga bisa tercapai keinginanmu itu. Selain itu kamu juga harus bisa merawat dengan telaten kekuatan gaib yang akan membantumu mencarikan harta kekayaan. Apakah kamu sanggup menghadapinya?” kata sang dukun.

“Saya sanggup, Ki. Saya capek hidup jadi orang miskin. Saya siap menghadapi resiko apa pun juga!” ucap Jamal dengan mantap.

“Tapi, Nak Jamal. Kekuatan gaib yang membantu mencarikan kekayaan ini tergolong ganas dan tingkat tinggi. Jika sampai engkau membuatnya kecewa, semisal tidak memberikan sesaji tepat waktu atau melanggar pantangan yang harus dijalani, bisa-bisa makhluk gaib itu akan mengamuk dan berbalik menyakitimu.”

“Saya siap menjalaninya dengan baik, Ki!” tegas Jamal.

Sang dukun termenung sejenak. Karena Jamal tampaknya sudah sangat mantap, akhirnya sang dukun mengabulkan permintaannya.

“Baiklah. Nanti saya akan tuntun Nak Jamal mendapatkan aji pesugihan itu,” katanya setelah diam untuk beberapa saat lamanya.

Begitulah. Dengan tuntunan sang dukun, Jamal mulai melakukan beberapa ritual untuk memanggil kekuatan gaib yang bisa membantu mendatangkan kekayaan dalam waktu singkat.

Salah satu ritual yang harus ditempuh Jamal adalah keharusan menjalani lelaku di tengah hutan yang sangat wingit. Namun, karena tekadnya yang sudah bulat dia tidak merasa gentar walau sedikitpun.

Setelah menjalankan ritual pesugihan itu, Jamal kembali ke kampung halamannya. Sesampainya di rumah, Jamal mendapat kabar buruk, ayahnya meninggal dunia. Kematian ayahnya yang terkesan wajar, disadari Jamal sebagai bentuk tumbal pertama yang telah dipersembahkannya. Hatinya sedih juga. Namun segera disingkirkan perasaan itu.

Selanjutnya,  Jamal menjalani hidup seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Walau sekarang dia sudah memiliki ilmu pesugihan, bukan berarti uang akan datang begitu saja. Dia tetap harus bekerja sebagai jalan untuk mendatangkan kekayaan. Pekerjaan yang dijalaninya adalah berdagang. Mula-mula dia berdagang bakso keliling.

Tapi tidak seperti kebanyakan pedagang bakso lain yang begitu susah mengais rejeki, Jamal sebaliknya. Dagangannya selalu laris. Bahkan kemudian berkembang menjadi besar. Jika tadinya berdagang memakai gerobak, kini sudah membuka warung sendiri.

Kehidupan  Jamal pun berubah menjadi lebih berada. Banyak orang yang kagum dan takjub dengan perkembangan hidup Jamal yang begitu pesat. Dalam waktu relatif tidak lama, Jamal  bisa merubah hidupnya sebagai orang kaya. Dia bisa membeli tanah, membangun toko, membangun rumah, membeli perabotan mewah, dan membeli kendaraan.

Namun perubahan hidup Jamal itu bukan tanpa kecurigaan orang-orang di sekitarnya. Mereka mencurigai kekayaan yang didapat Jamal dilakukan dengan cara tidak wajar. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kejadian aneh yang melingkupi hidup Jamal. Setiap kali isterinya, Yati melahirkan anak, selalu bayinya mengalami kematian. Hanya satu orang anak Jamal yang hidup, tapi anak itu mengalami cacat mental. Para warga menduga, anak-anak Jamal yang mati itu digantikan sebagai tumbal. Untuk

 menghilangkan kecurigaan orang-orang, Jamal kemudian mengambil anak orang lain untuk dijadikan anak angkat. Biasanya bayi orang miskin yang tidak kuat membayar biaya persalinan. Anak-anak itu ditampung di rumahnya. Dia menjanjikan akan merawat dan menyekolahkan mereka hingga dewasa.

Ada tiga orang anak angkat yang diasuh oleh Jamal. Karena mereka tidak mengalami nasib naas seperti anak kandung Jamal, dugaan menumbalkan anak pun akhirnya sirna.

Namun kecurigaan masyarakat tidak hilang. Beberapa dari mereka ada yang memergoki Jamal melarung sesaji di sebuah sungai. Ada juga yang memergoki makhluk halus besar hitam di belakang rumah Jamal. Mereka mengira makhluk halus itu sebagai peliharaan Jamal. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang berani mengusiknya.

Sementara itu Jamal yang telah hidup mapan, dengan memiliki banyak usaha mulai dari pertokoaan, armada angkutan, perdagangan hasil bumi, dan tanah perkebunan yang cukup luas, merasa tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya.

Setelah kekayaan didapat, kini ada lahan lain yang ingin dinikmatinya, yakni kedudukan sebagai pejabat. Kebetulan di desa tempat tinggalnya ada pencalonan kepala desa, Jamal ikut mencalonkan diri.

Dengan mengandalkan kekayaannya sebenarnya dia bisa membeli suara warga, namun  Jamal  masih kurang percaya diri. Dia tidak ingin kalah dari calon lain, apalagi dia menyadari hanya berpendidikan SMP. Dia takut kalah dari calon-calon lain yang berpendidikan tinggi.

Akhirnya dia kembali mencari jalan pintas dengan menemui dukun andalannya. Tapi sekali lagi sang dukun sempat menghalangi keinginannya itu.

“Buat apa lagi kamu menjagokan diri jadi kepala desa, Nak Jamal. Bukankah dengan kehidupan sekarang kamu sudah cukup mapan dan senang. Gaji kepala desa tidak ada seujung kukunya dari penghasilanmu sebagai pengusaha?” cetus sang dukun.

“Aku bukan mengejar kekayaan lagi, Ki. Aku menginginkan kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Dengan menjadi kepala desa, aku akan semakin disegani dan dihormati. Jadi tolonglah aku, Ki?” desak Jamal.

“Tapi aku khawatir kamu tidak bisa merawatnya dengan baik, Nak. Untuk merawat kekuatan gaib ilmu pesugihan saja kamu sudah cukup repot, bagaimana nanti kalau ditambah kekuatan gaib lain yang digunakan untuk mengangkat derajatmu sebagai pejabat kepala desa? Apakah kamu sanggup?”

“Aku sanggup, Ki!” jawab Jamal mantap.

Karena Jamal terus memaksa, akhirnya sang dukun mengabulkan.

Memang, tampaknya Jamal sudah dikuasai ambisinya. Dia sangat tamak dan rakus. Dia ingin mendapatkan semuanya. Setelah mendapatkan isteri yang cantik, kekayaan, kini giliran..jabatan.

Setelah melakukan ritual dan laku untuk beberapa saat, akhirnya Jamal berhasil mendapatkan apa yang diimpikan. Tidak seperti kekuatan gaib untuk mendatangkan kekayaan, kekuatan gaib yang membantu meraih jabatan ini tidak membutuhkan tumbal apa-apa. Hanya saja Jamal harus rajin memberi sesaji dan merawatnya, karena kekuatan gaib ini juga cukup kuat dan ganas.

Saat dilangsungkan Pilkades, Jamal berhasil menang dengan angka mutlak. Kini dia bisa menduduki tempat terhormat sebagai orang nomor satu di desanya. Jamal bisa menikmati kejayaan sebagai orang kaya, terhormat, dan memiliki jabatan bergengsi. Tidak ada orang seberuntung Jamal.

Namun kehidupan tidak selamanya berlangsung lancar. Kehidupan yang dijalani Jamal akhirnya berbalik seratus delapanpuluh derajat. Mungkin karena terlalu terlena dibuai kenikmatan duniawi, Jamal menjadi lalai. Dia tak lagi memperhatikan kekuatan gaib yang menjadi beking utamanya. Dia lupa melakukan ritual memberi sesaji, bahkan ada beberapa pantangan yang sempat dilanggarnya.

Suatu hari Jamal mendadak jatuh sakit. Tapi anehnya, sakit yang dideritanya tidak bisa terdeteksi oleh diagnosa dokter. Obat-obatan yang diberikan pun tidak mampu meredam sakit luar biasa yang mendera tubuhnya.

Jamal merasakan badannya seolah panas dibakar api dan perih seperti ditusuk duri-duri tajam. Mungkin itulah bentuk siksaan dari kekuatan gaib yang marah padanya. Sementara di sisi lain, kedok Jamal yang telah menggunakan ilmu pesugihan diketahui masyarakat. Hal ini bermula ketika salah satu anak angkatnya kedapatan mati secara tidak wajar. Orang-orang mendapati di dalam salah satu ruang di rumah Jamal terdapat aneka macam ubo rampe yang biasa digunakan untuk acara sesembahan roh halus.

Tak pelak lagi, hal ini menimbulkan kemarahan masyarakat. Mereka merusak rumah Jamal. Sementara Jamal sendiri mengungsi ke tempat lain.

Kejatuhan  Jamal tinggal menunggu waktu. Satu persatu usahanya bangkrut dan hartanya habis karena digunakan untuk mengobati penyakitnya. Malangnya, Yati, isterinya yang tiba-tiba tersadar dari pengaruh pelet kembali kepada orang tuannya dan menuntut cerai. Sementara ana-anak angkat Jamal kembali kepada keluarganya masing-masing. Mereka ngeri setelah mengetahui Jamal bersekutu dengan setan untuk mendapatkan kekayaan.

Akhirnya,  Jamal jatuh miskin dan hidup terlunta-lunta. Dia kehilangan jabatannya sebagai kepala desa, karena sudah tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia juga kehilangan seluruh harta kekayaannya.

Untunglah, ada seorang Kyai berilmu yang menolongnya melepaskan siksaan jin peliharaannya. Tapi sayang, kesembuhan Jamal tidak berlangsung seratus persen. Dia berubah tidak waras alias edan. Mungkin itu sebagai karma atau balasan atas perbuatannya bersekutu dengan setan….

Begitulah kisah yang dialami Jamal. Semoga kejadian nyata ini dapat memberikan pelajaran berharga pada kita semua, bahwasanya kita jangan sekali-kali berhubungan dengan Iblis maupun pengikutnya seperti jin dan bangsa halus lainnya. Sebab, sudah jelas bahwa Iblis menyesatkan hidup manusia.(solihin)