Published On: Rab, Jul 25th, 2018

Konser KONTEMPLASI Hariyanto Boejl: Merekam Rasa…Menebar Virus Kebaikan

Share This
Tags
Hariyanto Boejl (foto:Ist)

Hariyanto Boejl (foto:Ist)

JAKARTA ,IJN.CO.ID – Suasana Amigos Café & Resto di kawasan Kemang, Selasa malam (24/7/2018) dihiasi mayoritas para jurnalis, saat Konser Kontemplasi Hariyanto Boejl digelar.

Wajar memang karena Hariyanto masih dengan aktivitasnya sebagai jurnalis foto di Media Indonesia. Bakat yang terpendam akhirnya dicurahkan melalui Konser Komtemplasi mini albumnya.

Arti kontemplasi lebih kepada merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, memikirkan dan merenungkan konsep kehidupan, mengevaluasi diri, menghayati perjalanan hidup selama ini. Semua itu ditempuh supaya tidak terlalu mengikuti kebiasaan yang terjadi selama ini.

“Saya menulis lirik lagu berjudul Kontemplasi dan membuat Konser Kontemplasi di Amigos, Jakarta, Selasa (24/7). Tujuannya saya tidak ingin salah melangkah dalam menjalani kehidupan. Sebab, usia terus bertambah dan ajal pun tidak tahu kapan tiba. Semoga lagu Kontemplasi bisa memberikan inspirasi bagi semua orang yang terjun dalam berbagai profesi,” tutur Hariyanto Boejl yang kini mulai dikenal dengan sebutan  penyanyi balada Tanah Air, di Jakarta.

Sebagai manusia biasa, pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 26 September 1972, itu pun berharap bisa memperbaiki diri sendiri dan mengajak orang lain untuk menebarkan virus kebaikan.

Dalam Konser Kontemplasi, Boejl, panggilan akrab Hariyanto, juga meluncurkan mini album yang terdiri atas tiga lagu, yaitu  Kontemplasi, Introspeksi, dan Negeri Pelangi.

(foto:Ist)

(foto:Ist)

“Setelah puluhan tahun malang-melintang di dunia fotografi, saya pun merasa dunia tarik suara bisa menghibur banyak orang sekaligus menebarkan kebaikan,” tutur Boejl.

Boejl memilih untuk serius terjun ke dunia musik setelah ada dorongan semangat dari sahabat, Maxi Bahajjaj, atau biasa disapa Maxi King of Soul.

Hidup, kata Boejl, harus bergairah apabila ingin menorehkan sejarah. Demi semua itu perjuangan dan kesabaran adalah keniscayaan.

“Kontemplasi menjadi ruang evaluasi diri atas laku kehidupan yang telah saya jalani. Kontemplasi ada agar hidup senantiasa terjaga,” jelas Boejl.

Eksistensi kebudayaan, ucap Boejl, akan memberikan arah pada laku kehidupan, juga panduan bertumbuhnya kemajuan zaman. Sebagai anak kandung kebudayaan, harmonisasi lirik dan musik memiliki peran dominan dalam mencatat, merawat, dan mengembangkan tiap-tiap entitas peradaban. Fungsi itu dijalankan sejak masa silam, sekarang, hingga kelak di hari depan. Lirik dan musik akan terus bertemali dengan kebudayaan.

(foto:Ist)

(foto:Ist)

Dalam kesempatan terpisah, Head Communication External BNI, Selly Adriatika mengaku sudah mendengar mini album Boejl, mulai dari Kontemplasi, Introspeksi, dan Negeri Pelangi.

Selly menilai, Boejl memiliki rasa tersendiri dalam menulis lirik lagu. Arti dari lirik lagu yang ditulis Boejl bisa disampaikan secara tersurat atau tersirat.

“Boejl bisa menyampaikan maknanya dengan cara yang ringkas, berbobot, mampu menarik pendengar untuk mendengar dan terus mendengar. Tidak berantakan secara emosional, tersusun secara rapi. Lirik lagu Boejl mampu menyentuh hati. Lirik-liriknya bagus. Selalu terus berkarya dan semangat,” jelas Selly.

 

PENGHARGAAN

Sehari-hari Boejl menjalani profesi sebagai jurnalis foto. Dia memulai karier sebagai pewarta foto Jawa Pos pada 1993. Setelah itu dia bekerja di berbagai media, termasuk menjadi editor foto di Tempo News Room. Kini, Boejl menjadi Kepala Divisi Artistik dan Foto di Media Indonesia.

Puluhan penghargaan dari dalam dan luar negeri telah dia raih, antara lain The World IOC Sport Photographic Contest 1997, Highly

Commended Ballantine’s International Photography Award 1996 United Kingdom, Citation Prize Omiya Humor Photo Contest, Japan 1997, Grand Prize Photo Competition Citra Indonesia British Council 1998, juara 1 Satwa Indonesia 2005 photo competition, pemenang utama Mochtar Lubis Award 2010, dan juara 1 National Geographic-Firstmedia Instagram photo Competition 2011.

Boejl juga aktif memberikan workshop fotografi jurnalistik, menjadi

kurator buku-buku fotografi jurnalistik, penulis buku–buku fotografi

dan menjadi juri berbagai lomba foto berskala nasional maupun

internasional sejak 2005.

(jef)