Published On: Sab, Feb 3rd, 2018

Kisah Presiden Jokowi di Afghanistan: Menolak Memakai Rompi Anti Peluru

Share This
Tags
(foto:biropres setpres)

(foto:biropres setpres)

KABUL,IJN.CO.ID – Setidaknya tiga serangan mengoyak Kabul beberapa hari sebelum kedatangan Jokowi, yaitu serangan terhadap Hotel Intercontinental di mana terdapat kantor kelompok bantuan “Save the Children” pada 20 Januari yang menewaskan 43 orang, serangan bom bunuh diri di dekat gedung lama Kementerian Dalam Negeri pada 27 Januari yang menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai hampir 300 orang pada 28 Januari; disusul serangan terhadap akademi militer pada 29 Januari yang menewaskan sedikitnya dua orang.

Diwawancarai VOA melalui telefon tak lama setelah tiba di tanah air hari Rabu (31/1), Pramono Anung mengatakan beberapa hari sebelum berangkat ia dan Menlu Retno Marsudi sudah melaporkan situasi terakhir di negara itu dan menanyakan apakah presiden akan tetap datang ke sana.

“Saya dan Ibu Menlu yang bertanya langsung kepada presiden, “bapak… dengan segala aksi kekerasan ini apakah Bapak akan tetap berkunjung?” Dan beliau menjawab akan tetap berkunjung. “Bismillah saja karena saya yakin pemerintah Afghanistan akan memperlakukan dan menjaga keamanan saya dengan baik,” begitu kurang lebih jawab presiden. Itu yang meyakini beliau untuk tetap berkunjung ke Afghanistan,” jelas Pramono.

Pramono menambahkan, “Ketika itu pihak intelijen dan aparat keamanan menyarankan beliau memakai rompi anti-peluru, dan sebelum turun pesawat sebenarnya semua delegasi – termasuk saya – sudah memakai rompi anti-peluru. Tetapi karena presiden tidak memakainya, maka semua akhirnya tidak jadi pakai. Alhamdulillah kunjungan itu sangat sukses, sangat baik, kita disambut luar biasa, dan menunjukkan bahwa Indonesia sangat serius mendukung proses menuju perdamaian di Afghanistan.”

(foto:biropres setpres)

(foto:biropres setpres)

Meskipun penjagaan sangat ketat tampak jelas di rute-rute perjalanan presiden dan lokasi pertemuan, hal ini tidak mengurangi kehangatan lawatan pertama seorang presiden Indonesia dalam hampir enam dekade. Lawatan terakhir dilakukan oleh Presiden Sukarno pada Mei 1961.

Begitu Presiden Joko Widodo turun dari mobil, Presiden Ashraf Ghani langsung turun dari tangga Istana Agr di Kabul untuk menghampiri dan memeluknya. Hal pertama yang disampaikan dalam pertemuan itu adalah rasa belasungkawa atas jatuhnya begitu banyak korban tidak berdosa dalam serangkaian aksi kekerasan.

IMAM SHOLAT

Presiden Joko Widodo menjadi imam shalat dzuhur di sebuah masjid dalam kunjungan kenegaraannya di Kabul, Afghanistan.
Berdasarkan video dari Biro Pers Istana, dalam kunjungan kenegaraannya ke Kabul, Afghanistan, Senin (29/1), Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menunaikan shalat dzuhur berjamaah di masjid yang terletak di Kota Kabul.
Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi didaulat menjadi imam shalat dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menjadi makmum bersama jamaah yang lain.

(foto:biropres setpres)

(foto:biropres setpres)

Sebelum menunaikan shalat, keduanya sempat bertukar kopiah khas masing-masing negara.
Presiden Jokowi sempat dipakaikan turban atau kopiah khas Afghanistan, sementara Presiden Jokowi memberikan peci khas Indonesia dan membantu memakaikannya kepada Presiden Ghani.

Presiden Ghani yang sebelumnya mengenakan pakol pun bersegera melepasnya untuk kemudian mengenakan peci yang diberikan Presiden Jokowi.

Thank you (terima kasih),” kata Ghani kemudian keduanya saling tersenyum dan berpelukan.

Setelah itu, mereka menunaikan shalat dzuhur dengan Presiden Jokowi sebagai imam, sementara Presiden Ghani menjadi makmum di jajaran terdepan bersama para pejabatnya.(berbagai sumber/IJN)