Published On: Sen, Agu 28th, 2017

Mahfud MD: Tidak Ada Sumber di Al Quran Membentuk Negara Khilafah

Share This
Tags
Mahfud MD (foto:Ist)

Mahfud MD (foto:Ist)

IJN.CO.ID – Mahfud MD yang menjabat Presidium Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) menyatakan, tidak ada dalam sumber primer Islam seperti Al Quran dan Hadits yang memerintah untuk membentuk sistem negara khilafah. Kalau hasil ijtihad dari ulama tentang khilafah memang ada.

“Karena itu, Islam tidak mengharuskan sistem negara berbentuk khilafah, karena tidak ada sumber resmi terkait hal itu dalam ajaran agama tersebut,” jelas Mahfud MD di Pamekasan, Pulau Madura, Minggu (27/8/2017).

Mahfud mengemukakan hal ini menanggapi kecenderungan sebagian kelompok Islam yang menginginkan untuk membentuk negara dengan sistem khilafah.

“Makanya, konsep ulama Islam terdahulu tentang khilafah itu berbeda, antara Al-Maududi dan Al-Afagani,” ujar Machfud.

Mahfud menyebutkan konsep khilafah ulama terdahulu yang diterapkan di sebagian jazirah Arab, adalah konsep sistem negara yang sesuai dengan masanya.

“Jadi itu merupakan hasil ijtihad ulama yang sesuai pada masa itu,” katanya.

Para ulama Indonesia, sebenarnya tidak kalah dengan tokoh-tokoh Islam semisal Al-Maududi dan Al-Afgani saat menetapkan pilihan bahwa Demokrasi Pancasila sebagai sebuah sistem negara di Indonesia.

Sebagaimana sistem negara khilafah, ujar Mahfud, sistem negara dengan Demokrasi Pancasila juga bagian dari ijtihad ulama dan pendahulu bangsa ini.

“Karena Demokrasi Pancasila sudah menjadi kesepakatan, maka sebagai warga bangsa dan warga negara, kita berkewajiban menjaga keutuhan bangsa, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” katanya.

“Jadi, mari kita jaga bersama-sama keutuhan NKRI yang berideologi Pancasila ini,” ajak Presidium Kahmi Nasional itu seperti dilansir dari situs Kabar24 yang mengkutip dari Antara.

Guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini malah mencurigai,  keinginan sebagian kelompok Islam untuk membentuk negara dengan sistem khilafah itu merupakan bentuk nyata dari perkiraan ilmuwan barat Samuel Huntington yang disebut “Benturan Peradaban”.

Samuel memperkirakan, akan terjadi benturan peradaban yang disebut kelompok radikal, setelah runtuhnya sosialisme, karena musuh liberalisme bukan lagi sosialisme, akan tetapi kelompok radikal yang anti-modernisasi dan liberalisme.

Mahfud MD lahir di Sampang, Madura, 13 Mei 1957 dari pasangan Mahmodin dan Suti Khadidjah. Inisial MD dibelakang namanya berasal dari nama ayahnya karena saat di SMP ada dua orang anak mempunyai nama yang sama bernama Mahfud, maka untuk membedakannya ditambahkan MD.

Sejak kecil Mahfud menempuh dua jenis pendidikan, pendidikan agama dan umum. Pagi hari belajar umum di sekolah dasar dan sore harinya sekolah agama di madrasah. Lulus dari SD, Mahfud melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), di Pamekasan, Madura dan dilanjutkan ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) selama tiga tahun di Yogyakarta.

Setelah lulus pendidikan setingkat SMA, Mahfud melanjutkan ke dua perguruan tinggi sekaligus. Dia mengambil Jurusan Sastra Arab di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Jurusan Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Namun, ia lebih fokus di Hukum Tata Negara dan tidak melanjutkan di Sastra Arab. Dengan nilai bagus yang diperoleh Mahfud memudahkannya mendapatkan beasiswa untuk membiayai kuliahnya.

Setelah menggondol gelar sarjana hukum pada usia 26 tahun, Mahfud langsung memulai kariernya sebagai dosen di kampus almamaternya UII. Di tengah kesibukannya menjadi dosen, dia tetap mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di UGM.

Mahfud MD (foto:Ist)

Mahfud MD (foto:Ist)

Puncaknya dia menjadi  Guru Besar bidang Politik Hukum pada tahun 2000, dalam usia yang terbilang masih muda yakni 43 tahun. Nama Mahfud mulai terdengar secara nasional saat dia dipilih menjadi Menteri Pertahanan oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada periode 2000-2001. Mahfud juga merangkap Menteri Kehakiman dan HAM di masa jabatan Abdurrahman Wahid.

Setelah tidak menjadi eksekutif lagi, Mahfud melirik terjun ke dunia legislatif. Awalnya, dia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN), partai besutan Amien Rais, tapi akhirnya memilih mantap ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), pertai yang didirikan oleh Abdurrahman Wahid.

Pada pemilu 2004, Mahfud terbukti terpilih sebagai anggota legislatif dari PKB untuk periode 2004-2009. Di masa jabatannya berakhir di DPR, pada 2008, Mahfud mengikuti uji kelayakan calon hakim konstitusi. Ia lolos seleksi dan terpilih juga sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) untuk periode 2008-2013. Seperti dilansir dari situs MK, ketegasan, kelugasan, dan kejujuran Mahfud saat memimpin Mahkamah Konstitusi semakin membawa harum namanya dan lembaga yudikatif tersebut.

Dia menjadi salah satu pakar hukum tata negara yang menjabat tiga lembaga negara berbeda secara beruntun; lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Di tengah kesibukannya, ia juga aktif di berbagai organisasi ke masyarakatan dan profesi. Ia didaulat menjadi Ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

KELUARGA      
Istri          : Zaizatun  Nihayati
Anak        : Mohammad Ikhwan Zein
Vina Amalia
Royhan Akbar

PENDIDIKAN
Madrasah Ibtida’iyah, Pondok Pesantren al Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura.
SD Negeri Waru Pamekasan, Madura.
Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), Pamekasan, Madura
Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), Yogyakarta.
S1, Fakultas Hukum, Jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.
S1, Fakultas Sastra dan Kebudayaan (Sasdaya) Jurusan Sastra Arab, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
S2, Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
S3, Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

KARIER
Dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, (sejak 1984)
Direktur Pascasarjana UII (1998-2001)
Tim Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum-HAM (2000)
Menteri Pertahanan RI (2000-2001)
Menteri Kehakiman dan HAM (2001)
Wakil Ketua Umum Dewan DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (2002-2005)

 

(IJN/berbagai sumber)